Carbon Disclosure, Green Strategy, Environmental Performance, dan Firm Value: Peran Moderasi Greenwashing pada Emiten JII70 Sektor Energi dan Bahan Baku
DOI:
https://doi.org/10.59698/uniter.v4i1.425Keywords:
carbon disclosure, green strategy, environmental performance, greenwashing, firm value, JII70Abstract
Peningkatan perhatian investor terhadap risiko iklim membuat kualitas informasi keberlanjutan semakin relevan bagi penilaian perusahaan, khususnya pada sektor energi dan bahan baku yang berintensitas lingkungan tinggi. Penelitian ini menganalisis hubungan carbon disclosure, green strategy, environmental performance, dan greenwashing dengan firm value serta menguji greenwashing sebagai variabel moderasi. Sampel terdiri atas 16 perusahaan sektor energi dan bahan baku yang berada dalam Jakarta Islamic Index 70 (JII70) selama 2019–2023. Data berasal dari annual report, sustainability report, dan sumber pemeringkatan ESG yang digunakan dalam dataset penelitian. Terdapat 80 observasi firm-year pada data level; setelah pengujian PP-Fisher menunjukkan beberapa seri tidak stasioner pada level, estimasi dilakukan menggunakan data first difference sehingga tersedia 64 observasi. Pemilihan model melalui Chow, Hausman, dan Lagrange Multiplier mengarah pada random-effects model. Hasil model dasar menunjukkan bahwa carbon disclosure berasosiasi positif dengan firm value (β=1,3399; p<0,001) dan green strategy juga berasosiasi positif (β=0,9012; p=0,0043). Sebaliknya, environmental performance menunjukkan koefisien negatif yang signifikan (β=-0,0385; p=0,0267), sedangkan greenwashing berasosiasi negatif dengan firm value (β=-0,0029; p=0,0173). Pada moderated regression analysis, interaksi carbon disclosure×greenwashing negatif dan signifikan (β=-0,0301; p=0,0225), menunjukkan bahwa greenwashing melemahkan nilai informasi carbon disclosure. Interaksi green strategy×greenwashing (p=0,2915) dan environmental performance×greenwashing (p=0,4110) tidak signifikan. Temuan menegaskan bahwa pasar tidak hanya merespons banyaknya sinyal keberlanjutan, tetapi juga kredibilitas dan keselarasan antara pengungkapan dan kinerja. Implikasinya, perusahaan perlu meningkatkan kualitas verifikasi dan konsistensi praktik keberlanjutan, sedangkan investor perlu menilai substansi di balik komunikasi ESG.



.png)

