Representasi Cinta Modern dan Keterasingan Emosional dalam Lagu ‘Asing’ Karya Juicy Luicy: Kajian Semiotika Roland Barthes

Authors

  • Haris Khoirurrijal Universitas Sunan Gunung Djati Bandung
  • Khalid Muzakki Universitas Sunan Gunung Djati Bandung
  • Muhammad Irfan Maulana Hasan Universitas Sunan Gunung Djati Bandung
  • Maman Abdul Jaliel Universitas Sunan Gunung Djati Bandung

DOI:

https://doi.org/10.59698/vilvatikta.v2i2.572

Keywords:

semiotika Roland Barthes, cinta modern, keterasingan emosional, Juicy Luicy, lagu populer

Abstract

Lagu populer tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk ekspresi sosial dan kultural yang mencerminkan kondisi emosional masyarakat. Lagu “Asing” karya Juicy Luicy menampilkan potret cinta modern yang penuh dengan nuansa keterasingan, kehilangan, dan kerinduan terhadap masa lalu. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana lagu tersebut merepresentasikan konsep cinta modern dan keterasingan emosional melalui pendekatan semiotika Roland Barthes. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis semiotik, yang meliputi tahap observasi teks, dokumentasi, serta klasifikasi data. Analisis dilakukan berdasarkan tiga tataran makna Barthes: denotatif, konotatif, dan mitologis. Hasil analisis menunjukkan bahwa lirik “Asing” membangun sistem tanda yang menggambarkan pergeseran relasi emosional dari kedekatan menuju keterasingan. Penanda seperti “ungu muda”, “kacamata”, “tertawa menutupi luka”, dan “lagu yang kau putar tiap hari” memiliki makna denotatif berupa representasi cinta dan kenangan, sementara secara konotatif mengandung emosi rindu, kehilangan, dan kepalsuan perasaan. Pada tataran mitos, lagu ini menegaskan ideologi cinta modern yang rapuh serta terpecah oleh tekanan sosial dan budaya urban. Repetisi lirik “Dahulu ku mengenalmu paling” dan “Mengapa kini berubah asing” memperkuat mitos tentang cinta yang bermetamorfosis menjadi keterasingan emosional—sebuah cerminan krisis makna dalam hubungan manusia masa kini. Dengan demikian, lagu “Asing” tidak hanya merekam kisah percintaan personal, tetapi juga menghadirkan refleksi sosial mengenai alienasi emosional dalam masyarakat modern.

References

Amalia, Y. R., Ridwan, M., & Nur, M. (2025). Representasi Makna dalam Lirik Kumpulan Lagu yang Dipopulerkan oleh Hamza Namira (Analisis Semiotika Roland Barthes). Jurnal Sarjana Ilmu Budaya, 5(2), 1–16.

Barthes, R. (2007). Membedah Mitos-Mitos Budaya Massa. (Terj. Nurhadi). Yogyakarta: Jalasutra.

Hidayah, N. (2020). Musik Populer dan Representasi Budaya Masyarakat Urban. Jurnal Komunika, 14(1), 45–57. https://repository.unj.ac.id/50358/

Juicy Luicy. (2023). Asing (Official Music Video) [Video]. YouTube. Emotion Entertainment. https://www.youtube.com/watch?v=aMaKiIG19hc

Kuntanto, K. (2024). Makna Kesendirian: Analisis Semiotika Roland Barthes pada Lirik Lagu “Ruang Sendiri” Karya Tulus. Journal of Language Literature and Arts, 4(7), 757–762.

Pradana, A. (2021). Budaya Digital dan Keterasingan Emosional: Perspektif Komunikasi Modern. Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora, 10(3), 212–223.

Purnamasari, D. (2023). Musik dan Psikologi Masyarakat Urban: Analisis Representasi Emosi dalam Lagu Pop Indonesia. Jurnal Estetika, 8(1), 56–70.

Sobur, A. (2019). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Wikipedia. (2025, Oktober 28). Juicy Luicy. Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia. Diakses dari https://id.wikipedia.org/wiki/Juicy_Luicy

Downloads

Published

2026-07-23

How to Cite

Haris Khoirurrijal, Khalid Muzakki, Muhammad Irfan Maulana Hasan, & Maman Abdul jaliel. (2026). Representasi Cinta Modern dan Keterasingan Emosional dalam Lagu ‘Asing’ Karya Juicy Luicy: Kajian Semiotika Roland Barthes. Vilvatikta: Jurnal Pengembangan Bahasa Dan Sastra Daerah, 2(2), 75–89. https://doi.org/10.59698/vilvatikta.v2i2.572

Issue

Section

Articles